Ena Sumarna Produksi Kerajinan Wayang Golek Khas Desa Wangisagara


Berawal dari faktor ekonomi yang mengharuskannya untuk bekerja demi memenuhi kebutuhan hidup, Ena Sumarna (19), mulai mencoba membuat kerajinan wayang golek selepas lulus dari bangku Sekolah Menengah Atas beberapa bulan yang lalu. Darah seni yang diwariskan oleh ayahandanya yang juga merupakan seorang pengrajin wayang itu ternyata  sedikit-demi sedikit mulai membuahkan hasil. Dikediamannya di Desa Wangisagara, Kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung inilah, ia seorang diri terus berusaha membuat sejumlah karakter wayang seperti tokoh pewayangan, Astrajingga atau dalam kesenian Wayang Golek lebih dikenal Cepot, Semar serta dawala dengan bahan pokok berupa kayu Albasiah.
Dari tangannya inilah sebanyak 100 buah wayang dengan berbagai motif dan ukuran berhasil dipasarkan ke sejumlah toko di Jawa Barat. “kalau wayang cepot ukuran kecil dalam seminggu itu bisa dibuat sekitar lima puluh buah, sedangkan untuk ukuran sedang dan besar dalam seminggu kira-kira bisa buat sebanyak tiga puluh buah,” ujar Ena saat ditemui dikediamannya, Jumat (14/8/2015).
Sementara, untuk satu buah wayang berukuran kecil yang dipasarkan ke sejumlah toko, Ena menjualnya Rp.15.000. sedangkan wayang yang berukuran sedang dijual seharga Rp. 20.000 dan Rp.30.000 untuk ukuran besar. “selain dipasarkan ke toko, banyak juga pembali yang dating ke rumah, lihaty langsung proses produksinya,” tuturnya.
Lebih lanjut, Ena berharap kelak ia memiliki sebuah toko yang dapat memasarkan kerajinan wayangnya sendiri. “pinginnya sih memiliki toko, tapi kan semua itu ada prosesnya”, ungkapnya.
Foto dan Teks : Riana Setiawan

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Ena Sumarna Produksi Kerajinan Wayang Golek Khas Desa Wangisagara"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel